Gaji Besar - MATI di kursi kantor


Tulisan kali ini akan mengulas film pendek berjudul Full Time karya Jon Ryan Sugimoto, yang bisa teman-teman tonton di kanal YouTube Omeleto. Setelah membahas alur filmnya secara singkat, aku akan tuliskan beberapa pesan di balik kisah ini, tentang pekerjaan, uang, kebahagiaan, dan apa yang sebenarnya kita cari dalam hidup ini. 

Film Full Time menceritakan tentang seorang pemuda lulusan sarjana yang sedang mencari pekerjaan. Di tengah sulitnya dunia kerja, ia ditawari pekerjaan yang terdengar sederhana sekaligus aneh, yaitu berdiri diam di atas sebuah kotak selama jam kerja. Tidak ada tugas lain. Ia hanya perlu berada di sana, diam, tanpa melakukan apa pun.

Ia menerima pekerjaan itu dan hari-haripun berlalu. Di hari pertama, ia dibayar $50. kemudian bertambah $100, $500, hingga $2000 per hari. Pekerjaan itu tak menuntut banyak, tapi memberi upah yang sangat besar. Dari luar, hidupnya terlihat mapan dan berhasil. Tapi sebenarnya ada suatu hal penting yang ada dalam dirinya mulai mati.

Ketika melakukan pekerjaan aneh tersebut, ia tak lagi melakukan hal-hal yang ia sukai, seperti bermain skateboard. Ia kehilangan keberanian untuk keluar dari pekerjaannya yang berdiam diri di atas sebuah kotak. Bahkan saat melihat seseorang dirampok di depannya, ia tak bergerak. Ia “sedang bekerja”, katanya. Dan pekerjaannya adalah diam.

Waktu berjalan cepat, akhirnya ia menjadi tua dan pensiun. Setelah itu ia ingin menghabiskan masa tuanya untuk menikmati hal-hal menyenangkan yang tidak bisa ia lakukan selama bekerja. Dia mencoba untuk bermain skateboard yang dulu sangat disukainya, tapi apa yang terjadi? Dia tidak bisa memainkan skateboard kembali di masa tuanya, fisiknya tidak kuat dan keahlian bermain skateboardnya telah hilang. Dia baru sadar bahwa selama ini jiwanya telah terkikis sedikit demi sedikit oleh pekerjaan yang membayar mahal, sebuah gaji besar yang pada akhirnya tidak bisa membuatnya bahagia.


Disini penulis akan menyampaikan beberapa pesan tersirat didalam film ini. Film Full Time menyimpan pesan yang sangat dalam, yaitu tidak semua pekerjaan yang terlihat stabil dan menguntungkan layak dijalani, jika pada akhirnya kita kehilangan diri sendiri. 

Kotak tempat tokoh utama berdiri bukan sekadar benda fisik. Ia adalah simbol dari sistem, lingkungan kerja modern, target finansial, dan tekanan sosial yang secara perlahan dapat membekukan jiwa kita.

Kotak itu bisa berupa kursi kantor, meja kerja, atau rutinitas yang tak pernah dipertanyakan. Kita duduk diam setiap hari, digaji, dianggap sukses, tapi pelan-pelan kehilangan arah. Kita berhenti bermain, berhenti menolong, berhenti bertanya. Dan tanpa sadar, kita berubah menjadi versi diri yang dingin, hampa, dan nyaris tak bernyawa.

Film ini tidak anti-kerja atau anti-gaji besar. namun hanya mengajak kita untuk berpikir kembali:

Apakah kita bekerja untuk hidup, atau hidup hanya untuk bekerja? 

Apakah gaji besar sepadan dengan kehilangan kemampuan mencintai hidup? 

Apakah kenyamanan yang dibayar mahal itu benar-benar membuat kita bahagia?

Karena pada akhirnya, bukan hanya tubuh yang menua, jiwa kita pun bisa ikut mati jika kita terlalu lama tinggal dalam kotak yang salah.





Posting Komentar

0 Komentar