Kalau
kemarin saya mengajak anda di Hadiqah Tihama, kini mari saya ajak ke Mat’am
Khayal “Al-Bukhari”. Tempat ini layaknya restoran nasi arab seperti Nasi
Mandhi, Nasi Biryani, Nasi Kebuli, dll. Untuk harga mulai dari Tujuh sampai
Tiga Puluh riyal. Kini saya ingin bercerita di hari kedua ini sembari menikmati
nasi arab ini.
Di
hari kedua, kami masih merasa suntuk dan linglung akan singgahan baru ini. Saya
mencoba tuk mengajak kawan-kawan menikmati keindahan district Ar-Rehab, sayangnya
kami mengalami jetlag. Perubahan waktu salat, makan, tidur, dan belajar perlu
waktu bagi kami untuk menyesuaikannya. Misal waktu sholat Maghrib, di Indonesia
kami terbiasa waktu Maghrib sekitar jam 6 an sore, sedangkan disini waktu
Maghrib tepat pukul Tujuh malam.
Di
hari kedua ini kami bertemu dengan bapak kepala sekolah. Kami diberi amanah
untuk membimbing Bayt Al-Qur’an, program mengaji yang ada di sekolah. Sekolah
Indonesia Jeddah terdiri dari 1132 murid dari bangku Taman Kanak – Kanak sampai
Sekolah Menengah Atas. Murid-murid di sekolah hanya terdiri dari anak-anak
warga Indonesia, mereka lebih sering menggunakan bahasa Indonesia dibanding
Arab. Vibes dari sekolah ini lekat sekali dengan Indonesia, sedikit
suasana Arab yang ada di sekolah ini.
Kami
juga terkejut dengan cuaca disini. Panas berangin pasir lebih tepatnya. Indonesia,
meskipun panas tetapi angin sejuk semilir masih membersamainya. Saat kami
berjalan, terlihat didepan kami angin kencang yang membawa pasir-pasir keatas, debu-debu
tebal bertebaran menghembus ke wajah, kelilipan terus menggempur mata
halus ini, hidung pun sulit bernafas di rerumunan angin pasir ini, se-mengerikan
itu? Pikirku.
Oh
yaa, kami disini juga sedikit dengan harga keseharian. Indomie (satu saja) disini
seharga Tiga riyal atau selaras 12 ribu rupiah. Air galon kalau di Indonesia
sekitar 20 ribu rupiah, kalau disini seharga 36 ribu atau Delapan Riyal. Yang agak
shock kemarin di Hadiqah Tihama, harga bakso saja sampai 20 riyal,
selaras dengan 86 ribu rupiah. Akhirnya saya ingat kata seorang guru sewaktu di
Hadiqah Tihama kemarin “kalau beli disini jangan di kurs kan, nanti malah
nggak jadi beli”, that’s the answer.
Ku-rasa
hanya sedikit yang dapat kuceritakan di hari kedua. Jetlag membuat kami
terombang-ambing dalam produktivitas. Dan mungkin kita sudah dapat pulang karena
nasi arab dihadapan kita telah habis. Sekian, Bertemu besok di lain tempat.

0 Komentar