Untuk
hari ketiga ini aku hanya ingin bercerita tentang seseorang yang mengira Bahasa
Arab Amiyah hanyalah Bahasa Arab Fushah yang dibaca dengan logat arab sini.
Di
Tengah badai kota Jeddah dini hari, terlihat sekelompok mahasiswa Indonesia bencengkrama
di lobby apartemen. Awalnya mereka ingin mengikuti zoom dengan salah satu guru
sekolah guna membahas penyesuaian jam belajar program Baitul Qur’an. Namun, hal
itu tertunda akan karena badai malam itu.
“gilak, badainya kenceng banget please”
tutur Hery, mahasiswa UIN Jakarta
“hooh, tak kusangka kota metropolitan
berangin pasir ini bisa turun hujan selebat ini, badainya gede lagi” sahut Roby,
mahasiswa UIN Cirebon
“kemarin tuh kan, selepas maghrib
menjelang Isya aku coba jalan melihat-lihat sekitar, ehhh, malah tau tau pas
jalan di depan terlihat angin kenceng banget, bisa dibilang kayak putting beliung
lah, tapi yang dibawa angin nya tuh pasir, serem guys” kata Akbar, mahasiswa
UIN Surabaya
“oh itu, aku tau, aku tau, kemarin
itu Haram (Maksudnya Makkah, orang-orang sini menyebut Makkah dengan Haram)
juga hujan deras lebat kayak gini, aku tau dari temenku yang ada di Sekolah
Indonesia Makkah” ucap Hery
“semoga kita terhindarkan dari
marabahaya dan hal-hal yang tidak diinginkan” Akbar mengucap harapan doa kepada-Nya
“Aaamiin” serentak Hery dan Roby
mengamini
Waktu
menunjukkan pukul 9 malam, namun rasanya kalau di Indonesia baru jam 7, karena
disini waktu salat Isya jam setengah 9 malam, sedangkan waktu Maghrib pukul
Tujuh kurang sepuluh menit.
“Kalian
tau Mahfudz gak?” tanya Hery
“tau
lah, anak kelas 3 SD yang keturunan Arab Indo itu kan?” jawab Roby
“iya
tau lah, anak paling usil menurutku di kelas 3” tambah Akbar mengafirmasi
“nice,
asal kalian tau meskipun Mahfudz nakal gitu, aku belajar suatu hal darinya”
ucap Hery
“apa
itu?” tanya Roby
“gini,
sebelumnya kalian kira bahasa arab Amiyah itu gimana?” malah nanya balik si
Hery ini
“menurutku
Arab Amiyah itu hanyalah sekedar bahasa Arab Fushah yang dibaca dengan logat
sini, misal huruf “qaf” jadi “ghain”, ala ala Mesir gitu” jawab Akbar
“betul,
menurutku kayak gitu, contoh juga ada beberapa kata seperti “anta” dibaca “enta”,
malah kadang dimatikan jadi “ents”, gitu sih menurtuku” tambah Roby
“(sambil
tertawa kecil) sama, aku juga pikirku seperti itu. Kalau kalian tau, tadi siang
itu kan aku sama Mahfudz, biasalah ngurus anak kecil 3 SD itu gimana. Tapi mahfudz
ini bisa bahasa arab Amiyah, nggak seperti teman-temannya yang hanya bisa
bahasa Indonesia” ujar Hery
“bener
guys, aku juga dapat cerita dari anak anak osis, kalau Mahfudz itu punya
kelompok yang mereka itu sehari-hari nya pakai bahasa Arab Amiyah” ucap Roby
“nah,
bener kan, terus tadi pas pulang aku asal iseng aja lah nanya ke Mahfudz, apa
artinya hati-hati?, terus Mahfudz bilang weis weis” tutur Hery
“ha?
Apa?” tanya Akbar
“weis
weis” Hery mengulangi
“haduh,
memang repot bahasa arab amiyah ini” ucap Akbar
“iya,
betul itu, terus aku nanya ke Mahfudz, hal fahimta ma ma’na intabih?, Mahfudz
geleng-geleng. Lah? Pikirku” ujar Hery
“hey,
bener banget itu, aku juga kemarin pas di toko ngomong bahasa arab Fushah
mereka malah nggak ngerti (sembari garuk-garuk kepala)” sahut Roby
“terus?
Gimana mau bayar?” tanya Akbar
“(sambil
ketawa receh) dia nunjukin kalkulator, jumlah belanjaanku” jawab Roby
sembari menahan air mata karena – saking nemennya – tertawa.
Yaa,
itulah sekelumit kisah akan bahasa arab disini, indah dan menggelitik campur
menjadi satu. Orang arab asli memang menggunakan bahasa arab Amiyah, hanya
sedikit dari mereka yang mengerti bahasa arab Fushah. Kini penulis baru
memahami mengapa orang-orang Indonesia yang pintar bahasa arab, tapi ketika
disini bahasa arab yang dipelajari tidak digunakan. Malahan ada beberapa
kosakata yang jauh sekali dari bahasa arab Fushah.
Al
Hassaneyah, Ar Rehab, menjelang waktu subuh
Catatan: Nama Mahfudz sengaja tidak penulis samarkan, Sempat penulis mengambil foto bersamanya, Mahfudz berada di sebelah kiri penulis. Sedangkan kanan penulis, ia bernama Eyyad, bacanya Iyad

0 Komentar