Janji Kosong Lulusan Sarjana


Mungkin kamu yang sedang membaca tulisan ini adalah salah satu yang sudah atau sedang mengejar gelar sarjana. Namun tulisan ini bukan untuk merayakan pemakaian toga wisuda, melainkan untuk menyampaikan satu hal yang baru kusadari sekarang, yaitu: lulus sarjana bukan berarti hidup akan langsung membaik.

Selama di kampus, kita diajarkan berbagai teori, konsep, dan studi kasus. Tapi ternyata, kehidupan nyata tidak berjalan seperti itu. Dunia kerja tidak sekadar mencari orang yang punya ijazah, tapi orang yang benar-benar punya skill atau keterampilan.

Kehidupan setelah wisuda tidak seperti yang dulu kubayangkan. Terngiang sebuah iming-imingl kelulusan sarjana merupakan sebuah gerbang menuju pekerjaan dan penghidupan yang layak. Tapi nyatanya? Kehidupan tidak seperti itu, kehidupan lebih keras tak selembut anganan. 

Setelah lulus, bingung, kosong, tak tau arah, harus ngapain, atau mulai dari mana. Kirim lamaran sana-sini tidak ada respon, dibaca aja udah bersyukur. 

Ada sih memang beberapa teman yang langsung kerja, tapi sebagian besar dari kami? Ya begitu—menunggu keajaiban, sambil pura-pura sibuk di media sosial.

Yang paling bikin nyesek bukan cuma soal pekerjaan yang sulit didapat, tapi juga perasaan gagal yang diam-diam tumbuh. Kita mulai bertanya-tanya: apa selama ini perjuangan kita sia-sia? Apa empat tahun (bahkan lebih) kuliah cuma buat menambah gelar keren di belakang nama itu?

Tulisan ini cukup sebagai tuangan rasa yang mungkin kita sedang mengalami kebingungan yang sama. Kita sama-sama sedang belajar menavigasi hidup—dengan atau tanpa peta. Kita mungkin gak punya jawaban sekarang, tapi yang penting: jangan berhenti untuk terus berjalan.

Mungkin gelar sarjana bukan tiket langsung menuju kehidupan ideal. Tapi bisa jadi, itu adalah bekal awal untuk memahami realita. Dan dari situ, kita bisa mulai bangun jalan kita sendiri. Bukan jalan yang dijanjikan orang, tapi jalan yang kita temukan sendiri secara perlahan.


Posting Komentar

0 Komentar