Melelahkan,
perjalanan kami dari Surabaya Indonesia pukul 7 pagi dan kini sampai di Jeddah
pukul Sembilan malam atau satu dini hari kalau di Indonesia. Yaa, sekitar 18
jam perjalanan waktu yang kami habiskan. Cukup banyak hal-hal yang bisa
diceritakan disini, tapi mari kita bercengkrama di suatu tempat.
Mari
berimajinasi, kalian sekarang berada di depan saya, duduk melingkar menikmati
senja Arab Saudi. Saya mengajak kalian ke suatu taman, namanya Tihama.
Orang-orang sini menyebutnya adigah Tihama, adigah cuma lahjah-nya
aja, kata aslinya yakni Hadiqah yang berarti Taman. Hadiqah Tihama
layaknya pasar malam yang buka mulai sore hari, banyak orang Indonesia yang
jualan disini, makanan juga asli Indonesia, seperti bakso, mie ayam, sate, soto,
dan makanan Indonesia linnya. Hadiqah Tihama, ingat saja ini taman tempat
bercerita dari-ku.
Ku-mulai
dari awal keberangkatan, kami berempat – dua laki-laki dua Perempuan – bertemu
di bandara Djuanda jam tujuh pagi. Hari itu adalah hari berpisah kami dengan
keluarga selama satu bulan mendatang. Kami melakukan sesi foto bersama, mulai
dari tiap keluarga, kami berempat, dan foto semua keluarga.
Kami-pun
mulai masuk ke-dalam melewati batas pengantar, awalnya kami mencetak boarding
pass dan menghitung berapa kilo koper kita yang akan dimasukkan bagasi.
Setelah itu kami masuk ke tempat pemeriksaan barang, air putih, parfum, dan
bahan-bahan cair tidak boleh kami bawa. Kemudian kini kami sudah sampai
imigrasi, dan disinilah pengalaman berharga kami.
Saat
di imigrasi, layaknya orang-orang lain kami menyerahkan paspor dan visa kami. Waktu
penyerahan berkas si petugas bertanya kepada kami “siskopatuh nya mana mas
mbak?”. Sontak kami kaget dan tidak tahu, karena kami tidak mendapatkan barang
itu dari kampus. Akhirnya paspor kami berempat ditahan oleh petugas dan meminta
kami untuk menunggu. Ketika menunggu, kami menghubungi pihak kampus yang memesan
tiket dan visa kami. Pihak kampus juga kebingungan akan hal ini, mereka
menjelaskan bahwa selama ini visa yang dikeluarkan aman-aman saja.
Tak
lama kemudian seorang petugas memanggil salah satu dari kami, dan itu namaku. Kuharap
tidak terjadi apa-apa, sebelum masuk kami berempat terus melantunkan doa-doa
agar tak terjadi apa-apa. Aku-pun masuk ke dalam ruang sidang para petugas
imigrasi itu, temenku juga ingin ikut masuk tapi tidak diperbolehkan sama
petugas. Akhirnya saya masuk ke ruang sidang, ruangannya tak begitu terang, terlihat
tiga petugas imigrasi, dua orang berdiri di belakang satu petugas yang sedang
duduk dan akan mengintrogasi saya. “duduk” kata orang berpakaian rapi dengan
duduk tegap, aku dengan orang itu hanya terbatas dengan satu komputer. Ia diam,
lalu menghidupkan korek api dan menyulut sebatang rokok. Aku berusaha tetap
tenang meskipun kondisi seperti ini rasa campur takut dan khawatir tidak diperbolehkan
tuk berangkat. Sayangnya disini penulis tidak dapat menceritakan detail saat di
ruangan, menghindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Alhamdulillah,
Tuhan masih berpihak, kami berhasil melewati petugas imigrasi tersebut. Kami berempat
pun melanjutkan di ruang tunggu masuk gate. Kami dijadwalkan masuk pukul
sepuluh, lima belas menit sebelum keberangkatan. Lalu pukul 10:15 pesawat Singapore
airlines terbang menuju Changi. Perjalanan di pesawat tak banyak cerita,
mungkin hanaya berbeda suasana ketika naik pesawat dari Surabaya ke Singapura,
dan Singapura ke Arab Saudi. di pesawat pertama kami tidak berbarengan dengan
jamaah umroh, namun pesawat kedua mengharuskan kami bersampingan dengan jamaah
umroh. Suasana pesawat pertama dan kedua sangat berbeda, di pesawat pertama kami
ber-empat merasakan ketenangan tak ada riuh sama sekali. Namun di pesawat kedua
sungguh berbalik, dan hal itu membuat saya paham kalau Orang Indonesia
dimanapun ia berada tidak mudah bagi mereka untuk menyesuaikan budaya yang ada.
Hanya bising dan Bahasa jawa dan madura yang dapat kami dengarkan di pesawat kedua
ini.
Singkat
cerita, kami mendarat dengan selamat di Jeddah pukul 8 malam waktu setempat. Kami
bergegas untuk mengambil koper yang di bagasi, namun ternyata jalan pertama
yang kami lewati adalah imigrasi. Trauma dan rasa khawatir muncul, apalagi yang
di ruang sidang bandara Djuanda tadi Cuma saya, ketiga teman saya hanya menunggu
diluar untuk berdoa. Akhirnya teman saya meyakinkan dan mengajak untuk tetap tenang
di petugas imigrasi, dan kami-pun dapat melewati imigrasi tanpa hal-hal yang
tidak diinginkan seperti sebelumnya.
Kami pun bertemu dengan pihak dari Sekolah Indonesia
Jeddah yang menjemput kami di bandara. Di mobil kami dikasih tau akan diajak di
suatu taman. Kami berempat menikmati indahnya Jeddah malam itu, tulisan-tulisan
arab yang selama ini cuma kami lihat di youtube atau media sosial lainnya, kini
kami melihatnya secara langsung, sampai ada beberapa kosakata yang menurut kami
tidak sesuai dengan kaidah Bahasa arab yang telah dipelajari.
Kami
pun diajak ke Hadiqah Tihama, tempat dimana kita berada sekarang. Kami berempat
bercengkrama bahagia bersama pihak sekolah. Itulah sebabnya mengapa di awal
kalian kuajak untuk berimajinasi berada disini. Hadiqah Tihama, anggap saja
kalian disini.
Selepas
dari hadiqah tihama, kami pun diantarkan ke tempat penginapan kami, 18 jam
perjalanan membuat kami kelelahan. Dan kini, kami pun harus tidur tuk
melanjutkan hari esok, karena besok kami sudah harus masuk di sekolah dan
bertemu guru-guru dan murid-murid disana.
Itulah
cerita di hari pertamaku, kini waktu sudah mulai maghrib, sepertinya kalian
sudah harus pulang, besok sekiranya ada waktu, kita bisa bertemu di taman ini,
Hadiqah - Adigah - Tihama.

2 Komentar
nicee abangkuu
BalasHapusKelazzz
Hapus