Wisuda itu bukan titik,  melainkan titk koma yang panjang

Wisuda itu bukan satu titik, tapi dua titik yang tak pernah terbayang


Hari ini kita berpamitan, kepada pagi kelas yang tak selalu ramah dan malam kampus yang tidak begitu indah

Langit senja nan indah itu mengingatkan bahwa kita pernah lelah tapi tetap berjalan.

Kita pernah duduk di sudut lorong dengan kepala penuh beban, menyembunyikan air mata di balik layar laptop dan ujian yang mendesak.

Kita pernah berjalan pulang larut malam, dengan langkah gontai dan tubuh yang nyaris lumpuh.

Kita pernah tertawa di tengah tekanan, hanya agar dunia mengira kita baik-baik saja.

Kita pernah lupa tidur demi presentasi delapan pagi, dan tetap tersenyum meski dunia rasanya runtuh.

Kita pernah saling menguatkan dalam sunyi, dalam kedua mata dan bahu yang tak banyak bicara.

Kita pernah memeluk diam-diam semua kegagalan, dan mengubahnya jadi alasan untuk tetap bangun esok hari.

Secara perlahan, semuanya seakan terbalas, bukan hanya oleh toga dan nama yang disebut lantang, tapi oleh mata bahagia yang menatap dari kejauhan.


Kini.

Hanya satu larik mana ingin kuucap

"Kita telah sampai, tapi kita belum tiba"


Benar.

Kita memang telah sampai pada sebuah titik bernama wisuda, yang dirayakan dengan toga, bunga, dan linangan doa.

Namun tiba? Belum.
Sebab hidup tak menunggu kita selesai merayakan, ia terus berjalan, seperti pagi yang tak pernah menoleh ke malam.